10 Momen yang Diharapkan Terjadi di Sepakbola Pada 2017

Pergantian tahun telah dilalui dan semua cerita pada 2016 kini telah menjadi kenangan. Semua kini berharap resolusi yang dicanangkan pada 2017 menjadi kenyataan, begitu juga Berita Taruhan merangkum 10 momen yang diharapkan terjadi di dunia sepak bola pada 2017.

Apa saja ke-10 momen yang diharapkan itu? Berikut penjabarannya dari momen sepak bola di Tanah Air alias Indonesia hingga Eropa

10. Kebangkitan Sepakbola Serie A

AC Milan v Juventus FC - 2016 Italian Super Cup

Berbicara Serie A Italia, di era 90-an mereka memiliki klub-klub yang disegani di Eropa melalui perwakilannya, AC Milan dan Juventus. Tentu, hal itu diharapkan terulang kembali pada 2017, baik di Champions League atau Europa League.

Juventus dan Napoli dua tim Negeri Pizza yang ada di Champions League, sementara Roma dan Fiorentina di Europa League. Rasanya, sudah lama sekali tidak melihat tim Italia berjaya di Eropa.

Juventus, merupakan perwakilan Italia terakhir kali yang menapaki final Champions League 2014/15 dan saat itu, mereka kalah 1-3 dari Barcelona yang pada akhirnya meraih treble winners.

9. Menanti Penerus Dongeng Leicester City

RB Leipzig v Hertha BSC - Bundesliga

Kisah cinderella Leicester kala menjuarai Premier League dan menerjang seluruh prediksi miring, merupakan hal yang jarang terjadi di sepak bola modern ini. Namun, kisah Jamie Vardy dan kawan-kawan menginspirasi banyak klub, terutamanya klub minor atau non-unggulan.

Penggemar sepak bola dunia tentu hal itu kembali terulang pada 2017, dan dua tim berpotensi mengikuti jejak The Foxes, adalah RB Leipzig di Bundesliga Jerman dan OGC Nice di Prancis.

Leipzig bersaing dengan Bayern Munchen di papan atas klasemen Bundesliga, sementara Nice terpaut lima poin dengan penguasa Prancis dalam beberapa musim terakhir, Paris Saint-Germain (PSG).

8. Final Champions League yang Ideal

FBL-EUR-C1-DRAW-TROPHY

Pada 2016 atau musim 2015/16, final Champions League mempertemukan dua klub asal Madrid, Real Madrid dan Atletico Madrid. Pertemuan keduanya pun dinilai membosankan oleh banyak pengamat sepak bola, karena keduanya sering bertemu di La Liga.

Fans tentu berharap final yang berlangsung di Millennium Stadium, Cardiff, Wales tahun ini, mempertemukan dua klub dari negara yang berbeda dengan kultur bermain berbeda. Potensi laga sengit bisa terjadi dengan pertemuan dua klub beda negara tersebut.

7. Serie A dan La Liga Lebih Kompetitif

Genoa CFC v Juventus FC - Serie A

Resep sukses mengapa Premier League jadi salah satu liga terbaik dunia, adalah karena tiap tim bisa saling mengalahkan, bahkan klub kecil sekalipun mengalahkan tim yang lebih besar.

Hal itu diharapkan bisa terjadi di Serie A yang didominasi Juventus, atau La Liga yang dikuasai dua raksasa, Real Madrid dan Barcelona. Persaingan yang ketat berpotensi menaikkan rating televisi, dan tentunya menambah penggemarnya.

6. Klub-Klub Eropa Pra-musim ke Indonesia

Chelsea v Indonesia All-Stars

Pada 2013 atau tepatnya empat tahun lalu, publik Tanah Air dipuaskan dengan kedatangan tiga klub besar Inggris dan beken dunia. Fans bisa melihat langsung aksi Chelsea, Liverpool, dan Arsenal yang menjalani tur pra-musim di Indonesia.

AS Roma, Inter Milan, Bayern Munchen, Borussia Dortmund, hingga Hamburg, merupakan klub-klub yang pernah menyambangi Indonesia. Fans di Indonesia tentu berharap klub-klub Eropa bisa kembali ke Indonesia di tur pra-musim 2017/18, terutamanya sanksi telah dicabut FIFA pada 2016.

5. Kompetisi Tanah Air Kembali Bergulir

FBL-INA

Vakum selama satu tahun lebih tanpa kompetisi, pemain mencari ‘berlian’ dengan mengikuti tarkam, hingga kemunculan turnamen-turnamen serta kompetisi yang tidak diakui FIFA, merupakan hal-hal yang pernah mewarnai sepak bola Indonesia dalam dua tahun terakhir ini.

Kini, dengan kepengurusan baru PSSI hingga pencabutan sanksi oleh FIFA, seharusnya kompetisi sudah bisa bergulir kembali dan menjadi hiburan bagi masyarakat pecinta sepak bola di masing-masing daerah.

4. Penerapan Teknologi yang Tepat

DFB And DFL To Present Hawk Eye For DFB Cup Final

Pada Desember 2016, teknologi baru digunakan dan jadi yang pertama digunakan di laga resmi, kala wasit diberikan wewenang untuk memberi keputusan dengan melihat tayangan ulang, jika ada momen yang meragukan.

Sang pengadil lapangan bisa memberi keputusan jika merasa ragu dengan keputusannya. Perkembangan teknologi memang muktahir saat ini, hanya, diharapkan penerapannya justru tidak membuat sepak bola menjadi membosankan dan kehilangan sisi humanisnya.

Contoh itu sudah terjadi di olahraga lainnya, Formula One (F1), dengan teknologi termuktahir mobil, membuat kualitas mengemudi pembalapnya tidak terlihat, karena sepenuhnya mengandalkan mesin mobil.

3. Serie A Kembali Ditayangkan Televisi Tanah Air

ACF Fiorentina v SSC Napoli - Serie A

Kompetisi teratas sepak bola Italia boleh jadi membosankan jika melihat Juventus yang terus menjadi juara. Namun, pecinta sepak bola Serie A bukan hanya tentang fans Juventus, karena banyak juga fans lainnya.

Banyak penggila sepak bola Serie A yang lawas dan menyukai klub-klub tradisional seperti Sampdoria atau Lazio. Serie A tetap masuk salah satu liga top dunia, dan diharapkan pada 2017, masyarakat Indonesia tak perlu bersusah payah menyaksikan tim kesayangannya beraksi melalui internet alias streaming.

2. Regenerasi Pemain

FBL-BRAZIL-OUSADIA-PEDALADA-CHAPECOENSE

Lionel Messi pada 2017 akan berumur 30 tahun dan Cristiano Ronaldo berusia 32 tahun. Tentu, sudah saat regenerasi terjadi dan menggeser keduanya sebagai pemain terbaik dunia.

Neymar, Antoine Griezmann, Eden Hazard, merupakan beberapa nama yang berpotensi menggantikan mereka. Namun, regenerasi juga diharapkan tak hanya untuk menggantikan pemain terbaik dunia, tapi juga di seluruh klub yang masih mengandalkan pemain veteran yang masa jayanya sudah berakhir.

Menyenangkan tentunya jika melihat pemain muda beraksi dengan semangat berjuang dan permainan mereka yang enerjik.

1. Era Baru Timnas Indonesia

FBL-AFF-VIE-INA

Jadikan hasil di AFF Suzuki Cup 2016 sebagai pelajaran, dan Timnas Indonesia harus tetap membuat landasan dari turnamen itu, terutamanya dengan skuat yang membawa Tim Merah Putih ke final.

Kesinambungan atau training camp harus terus dilanjutkan di kubu Timnas, terutamanya dengan pelatih yang tidak ‘sekali pakai pecat’. PSSI harus tegas dan cermat memilih pelatih.

Timnas Indonesia tak memiliki agenda khusus sebuah turnamen untuk 2017, namun mereka bisa menaikkan peringkat FIFA dengan mengikuti pertandingan internasional (persahabatan) di jeda internasional, yang berlangsung 20-28 Maret 2017, 5-13 Juni 2017, 28 Agustus – 5 September 2017, 2-0 Oktober 2017, dan 6-14 November 2017. 

Sepak bola pada 2016 telah berlalu dan kini hanya menyisakan harapan untuk 2017.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *